Select Page

Perantau Desa Manggis Mojosongo Boyolali Pulang Kampung demi Silaturahmi di Momen Sadranan

Perantau Desa Manggis Mojosongo Boyolali Pulang Kampung demi Silaturahmi di Momen Sadranan

BOYOLALI-Sadranan (nyadran), tradisi bersih makam leluhur serta tabur bunga yang dilaksanakan tiap bulan Sya’ban oleh masyarakat Jawa, khususnya Jawa Tengah. Seperti yang dilakukan masyarakat di Desa Manggis, Kecamatan Mojosongo, Kabupaten Boyolali ini.

Tradisi yang digelar pada Ahad (21/04) di komplek pemakaman umum Dukuh Sepet, Desa Manggis, ini diikuti oleh masyarakat Dukuh Sepet, Dukuh Jatiroto, Dukuh Blimbingsari dan Dukuh Rejosari.

Tradisi ini berisi serangkaian acara yang diawali dengan kenduri apem (kue tradisional khas jawa) pada malam Nisfu Sya’ban. Kemudian dihari berikutnya dilanjutkan bersih makam dan tabur bunga di pagi hari yang dilanjutkan dengan acara kenduri yang diisi pembacaan tahlil serta doa untuk para leluhur. Dalam acara kenduri ini, para warga membawa sedekah yang akan dibagikan kepada yang lainnya. Ribuan masyarakat tumpah ruah dalam sadranan kali ini.

Tak hanya masyarakat yang sekarang tinggal dan menetap disini, tetapi para kerabat yang meratau pun pulang, demi ikut serta dalam acara ini. Hadir pula, para tokoh agama juga para perangkat desa di Desa Manggis.

“Alhamdulillah, niki saking Jakarta, Bandung, Kediri saged wangsul sedoyo,” ucap Kiai Hamid Zuhri dalam sambutannya. Ini menandakan bahwa antusiasme warga sangat besar.

Sebagai penutup, pembacaan doa yang dipimpin oleh Kiai Dimyati Masykur menjadi penutup sekaligus puncak tradisi sadranan ini. Dari acara ini diharapkan seluruh masyarakat dapat penjaga silaturrahim antar sesama warga Desa Manggis dan kita harus bangga serta mau untuk tetap menjaga dan melanjutkan tradisi ini. (reporter: Nurma)

About The Author

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *