Select Page

Masyarakat Desa Pinggir Karanggede Boyolali Masih Menjaga Tradisi Selametan Kematian, Ini Alasannya…

Masyarakat Desa Pinggir Karanggede Boyolali Masih Menjaga Tradisi Selametan Kematian, Ini Alasannya…

KARANGGEDE-Tradisi merupakan suatu bentuk kegiatan yang dilakukan terus menerus oleh masyarakat. Sehingga menjadi suatu kebiasaan dan pada akhirnya menjadi bagian penting yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan masyarakat.

Tradisi membentuk suatu nilai-nilai budaya dan kearifan lokal yang menjadi pedoman bagi masyarakat dalam menjalani kehidupan sehari-hari serta menjadi suatu kekayaan budaya bagi suatu daerah yang harus dilestarikan dan dipertahankan keberadaannya. Hingga saat ini, masih banyak desa-desa di Jawa yang melakukan tradisi seperti itu.

Desa tersebut adalah Desa Pinggir, Kecamatan Karanggede, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Salah satu tradisi yang masih dilakukan adalah tradisi selametan kematian yang selalu dilakukan oleh sahabat-sahabat Ansor dan Banser Ranting Pinggir.

Mereka selalu mengikuti acara peringatan “Malam Kematian” dari malam pertama hingga malam ke-7 hari di rumah warga Desa Pinggir yang salah satu anggota keluarganya meninggal dunia. Kedatangan mereka tanpa ada undangan khusus.

Sahabat-Sahabat Ranting Pinggir melaksanakan peringatan malam ke-5 meninggalnya Mbah Mursinah (78), ibu dari Bapak Seri dan Bapak Sabar, salah satu warga Dusun Pakisan Rt 05/Rw 01, Desa Pinggir.

Karena mereka meyakini bahwa tradisi tersebut adalah bagian dari syiar uang terdapat nilai-nilai Islam di dalam pelaksanaanya. Seperti membaca doa-doa, ayat-ayat Al Quran, salawat, dan berdzikir yang dikenal dengan tahlilan.

Tradisi selametan setelah kematian tersebut sampai sekarang masih banyak dilakukan masyarakat karena didorong oleh suatu sistem keyakinan dan kepercayaan yang kuat terhadap sistem nilai dan adat istiadat yang sudah berjalan turun temurun.

Bahwa keberadaan tradisi selametan kematian di Desa Pinggir tersimpan nilai positif dalam pelaksanaannya. Masyarakat di Desa Pinggir memiliki sudut pandang yang berbeda-beda dalam menilai tradisi tersebut.

Seperti halnya ada masyarakat yang memiliki keinginan atau termotivasi untuk menghadiri dan mengikuti kegiatan tersebut dan ada juga yang menilai bahwa kegiatan semacam itu tidak perlu dilakukan karena tidak ada hadist yang mendasarinya. Tradisi semacam ini perlu diambil nilai positif yang terkandung oleh masyarakat itu sendiri.

Seperti halnya tradisi tersebut untuk silaturrahmi atau sekedar menyambung ikatan saudara dengan masyarakat satu dengan yang lain yang menimbulkan rasa satu kepentingan dan kebersamaan sehingga muncul hubungan sosial Yang Erat. (HR)

About The Author

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *